1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanGlobal

Sindrom Pascapolio Pancing Kelumpuhan Lama Setelah Sembuh

Gudrun Heise
23 Juli 2024

Infeksi polio, yang biasanya menjangkit di usia balita, bisa kembali menyebabkan kelumpuhan puluhan tahun setelah pemulihan. Hanya vaksinasi yang mampu menjamin perlindungan maksimal.

https://p.dw.com/p/4idKQ
Vaksinasi polio di Pakistan
Vaksinasi polio di PakistanFoto: K.M. Chaudary/AP Photo/picture alliance

Hans-Joachim Wöbbeking sempat menyangka telah mengalahkan polio.

Setelah didiagnosa mengalami kelumpuhan akibat virus polio saat berusa tiga tahun, dia berjuang kembali ke kehidupan normal. Namun baru bertahun kemudian, Hans-Joachim bisa menyecap kembali sedikit kebebasan bergerak.

Bahwa penyakit polio bisa tiba-tiba muncul empat puluh tahun kemudian, tidak sedetikpun terpikirkan olehnya.

Gangguan yang diidap Hans-Joachim dikenal sebagai sindrom pascapolio, PPS, yang membuatnya teronggok di atas kursi roda sejak tahun 1995. Untuk kedua kalinya, infeksi polio membawa kelumpuhan.

Serangan yang diidap Hans-Joachim sedemikian akut, dia sempat harus hidup di dalam tabung oksigen bernama "paru-paru besi," sebagai pernafasan buatan.

"Kondisi saya membaik setelah kira-kira tiga setengah tahun. Lalu dimulailah proses pemulihan dan regenerasi, yang berlangsung selama sepuluh tahun," kata dia.

Shazia Batool, Penderita Polio Mendobrak Batasan di Pakistan

Jebakan kesembuhan

Penyakit polio atau Poliomyelitis ditandai oleh kerusakan syaraf, yang menggejala lewat kelumpuhan pada bagian tangan dan kaki, serta dalam beberapa kasus organ pernafasan. Sebagian pengidap polio harus mendapat pernafasan buatan seumur hidup, namun sebagian lain mampu pulih dan menjalani kehidupan normal, seperti Hans-Joachim Wöbbeking.

"Terapi sebenarnya bisa memulihkan dalam jangka waktu yang lama, namun pada titik tertentu juga bisa menjadi beban tambahan bagi syaraf," kata Axel Ruetz dari Pusat Polio di Koblenz Jerman. "Artinya, mantan pasien mengalami kelumpuhan baru, dalam bentuk sindrom pascapolio."

Hans-Joachim kini menyadari betapa dia terlalu banyak membebani tubuhnya sendiri, terutama sejak berhasil mengalahkan polio di usia muda. Kesembuhan bagi pengidap gangguan akut diakui bisa melambungkan rasa percaya diri secara berlebihan, terutama dalam kasus kelumpuhan.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Penyakit langka nan berbahaya

Di Jerman, sebanyak 70.000 orang tercatat mengidap sindrom pascapolio, yang membuatnya digolongkan sebagai penyakit langka. "Tapi artinya juga," kata Axel Rietz, "tidak ada ketertarikan besar dari dunia penelitian. Tidak banyak khazanah ilmiah atau pendidikan khusus di universitas," kata dia.

"Terlebih, sejauh ini belum ada obat-obatan yang mampu menghadang atau menyembuhkan sindrom pascapolio," imbuhnya.

Polio masih belum bisa diberantas di seluruh dunia. Saat ini, kasus infeksi baru bermunculan di Indonesia, Afghanistan dan Pakistan, sertadi Malawi dan Mozambik pada tahun 2022. Virus polio tersebut kemungkinan besar diimpor dari Pakistan.

Atlet Paralimpiade Meminta Perempuan Tak Takut Mimpi Besar

Pada tahun 2022, seorang pemuda di negara bagian New York, Amerika Serikat, menderita polio parah. Virus polio terdeteksi dalam sampel air limbah di London, Inggris. Di Israel, seorang anak yang tidak menerima vaksinasi mengalami kelumpuhan.

Polio ditularkan secara fekal-oral, yaitu melalui ekskresi. Namun tetesan air liur sekalipun bisa menularkan virus melalui infeksi noda, misalnya melalui mulut atau hidung. Dari situ, patogen mula-mula masuk ke saluran pencernaan dan akhirnya masuk ke pembuluh darah.

Kebanyakan orang yang tertular virus polio bahkan tidak menyadarinya. Pasien tidak menunjukkan gejala meski sudah mengidap virus. Pola ini berlaku untuk 90 persen dari mereka yang terinfeksi. Pasien biasanya mengembangkan kekebalan terhadap virus, namun tetap rentan terhadap varian lain patogen polio.

Hanya vaksinasi yang memberikan perlindungan maksimal terhadap penyakit yang tidak bisa disembuhkan itu, dan kini menjadi cara yang digalakkan di berbagai negara dalam kasus kemunculan polio. Imunisasi mutlak diperlukan, termasuk jika pengidap tidak menunjukkan gejala apapun, demikian menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO.

rzn/as