1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
TerorismePakistan

Serangan Bunuh Diri Makin Sering Terjadi di Pakistan

Zia Ur Rehman
2 Agustus 2023

Serangan bunuh diri makin sering terjadi di Pakistan. Ledakan terbaru di Bajaur menewaskan lebih 50 orang, termasuk banyak anak-anak. Apa alasan di balik tren mematikan ini?

https://p.dw.com/p/4UfIM
Pakistan Bajur | Bombenschlag auf politische Veranstaltung
Foto: Pakistan's Emergency Rescue 1122 Service/AFP

Jumlah korban tewas dalam serangan bom bunuh diri terbaru di Pakistan telah melampaui 50 orang. Ketua partai Jamiat Ulema Islam (JUI-F), yang pendukungnya menjadi sasaran serangan ledakan, mengecam aparat keamanan negara atas "kegagalan intelijen".

"Di mana mereka? Kapan mereka akan mendengarkan kami? Kapan mereka akan menyembuhkan luka kami? Kapan mereka akan membangun sistem yang melindungi generasi masa depan kita?" tulis Pemimpin JUI-F, Fazl-ur-Rehman, di akun Twitter-nya.

Fazl-ur-Rehman bukanlah satu-satunya pendakwah di Pakistan yang menyuarakan dengan lantang untuk menentang maraknya serangan aksi teroris, termasuk bom bunuh diri.

Thumbnail zum Interveiw mit einem Überlebenden des Anschlags in Pakistan
Korban selamat ledakan bom bunuh diri di PakistanFoto: Ali Kaifee/DW

Aksi teror bom bunuh diri di Pakistan

Ledakan pada hari Minggu (30/07) di Bajaur diklaim sebagai salah satu aksi dari kelompok afiliasi lokal milisi ISIS. "Negara Islam Khorasan" (ISIS-K) menuduh JUI-F munafik, karena telah menjadi kelompok politik Islam yang mendukung pemerintah sekuler dan militer di negara tersebut.

Tetapi kelompok-kelompok ekstremis lainnya juga menggunakan aksi bunuh diri serupa untuk menargetkan musuh-musuh politik mereka di Pakistan. Negara ini telah mengalami lebih dari selusin serangan bunuh diri pada paruh pertama tahun 2023, menurut laporan dari Institut Studi Konflik dan Keamanan Pakistan yang berbasis di Islamabad.

Ledakan bom di sebuah masjid di Peshawar yang menewaskan lebih dari 100 orang, pada awalnya diakui sebagai tanggung jawab dari seorang komandan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), namun kemudian dibantah oleh juru bicara TTP.

Selain itu, ledakan yang terjadi pada hari Minggu (30/07) dalam aksi unjuk rasa JUI-F tersebut merupakan insiden terbaru di provinsi Khyber Pakhtunkhwa barat laut, yang berbatasan dengan Afganistan.

Sebelumnya, pada tanggal 18 Juli, delapan orang terluka dalam sebuah ledakan bom bunuh diri di Peshawar. Kemudian, pada tanggal 20 Juli, dua orang teroris bom bunuh diri juga menyerang kompleks resmi di Bara, distrik Khyber, di mana sedikitnya empat petugas polisi tewas dalam tragedi tersebut. Seorang petugas polisi lain juga terbunuh lima hari setelahnya, ketika tengah berusaha menangkap seorang teroris bom bunuh diri di sebuah masjid.

Memerangi Ekstremisme Lewat Media Digital dan Bantuan Returnee

Faksi-faksi yang bersaing di balik serangan teror mematikan

Abdul Basit, seorang peneliti senior di Studi Internasional S. Rajaratnam dan pakar jaringan jihad, mengatakan kepada tim DW bahwa kelompok teror TTP telah dikaitkan dengan aksi terorisme bom bunuh diri di Pakistan, sejak kelompok itu didirikan pada Desember 2007.

"Selain TTP, kelompok-kelompok besar lainnya yang terlibat dalam serangan bunuh diri termasuk ISIS-K, faksi komandan Hafiz Gul Bahadur yang berbasis di Waziristan Utara, dan Tehreek-e-Jihad Pakistan yang baru-baru ini dibentuk," kata Basit kepada tim DW.

"Selain itu, di antara berbagai kelompok separatis etnis sekuler, Tentara Pembebasan Baloch (BLA) juga menjadi sebagai salah satu aktor utama yang mengambil inspirasi dari militan Islamis, dan mengadopsi teror bom bunuh diri sebagai taktik perang," tambahnya.

Pada bulan Juni, BLA mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri yang melibatkan seorang tersangka perempuan, yang melakukan aksi terorisme dengan menargetkan konvoi penegak hukum di wilayah Balochistan, Pakistan.

Sejarah panjang aksi serangan bom bunuh diri di Pakistan

Sejak pertengahan tahun 1990-an, Pakistan telah mengalami beberapa aksi serangan bunuh diri, yang sebagian besar pada masa itu diorganisir oleh organisasi militan internasional dan kelompok-kelompok sektarian.

Pada bulan November 1995, para teroris menargetkan kedutaan Mesir di Islamabad dan menewaskan setidaknya 17 orang. Aksi bom bunuh diri tersebut terkait dengan Ayman al-Zawahiri dan kelompok militan Jihad Islam Mesir.

Pada bulan Mei 2002, aksi bom bunuh diri di sebuah bus di Karachi telah menewaskan 14 orang, termasuk 11 insinyur Prancis. Konsulat Amerika Serikat (AS) di Karachi juga ikut diserang pada bulan Juni 2002 dan Maret 2006, yang menyebabkan kematian seorang diplomat AS dan banyak lainnya.

Bahkan para pejabat tinggi Pakistan juga turut menghadapi ancaman ledakan bom bunuh diri, termasuk mantan Presiden Jenderal Pervez Musharraf, dan mantan Perdana Menteri Shaukat Aziz, pada tahun 2003 dan 2004. Keduanya tidak terluka dalam aksi serangan tersebut.

Kemudian pada tahun 2005, Lashkar-e-Jhangvi, sebuah kelompok teroris sektarian Pakistan, melakukan aksi serangan bunuh diri di kuil Pir Rakheel Shah di distrik Jhal Magsi, provinsi Balochistan, dan Bari Imam di Islamabad.

TTP bangkit setelah penumpasan Masjid Merah

Aksi terorisme bom bunuh diri yang terorganisir di Pakistan itu berakar dari operasi militer terhadap para militan yang bersembunyi di Masjid Merah Islamabad pada bulan Juni 2007 silam.

Pengepungan tersebut berujung pada pertempuran mematikan, dengan merenggut lebih dari 100 militan dan sedikitnya 11 anggota penegak hukum. Beberapa bulan kemudian, TTP muncul kembali di tempat kejadian perkara sebagai kelompok militan yang lebih tangguh.

"Ini menandai titik balik yang signifikan dalam sejarah Pakistan, ketika TTP memulai serangkaian serangan bom bunuh diri yang meneror negara itu selama bertahun-tahun," kata Fakhar Kakakhel, seorang jurnalis asal Peshawar yang meliput pergerakan militansi Islamis itu secara ekstensif. "Bom bunuh diri itu menargetkan militer, instalasi pemerintah, tempat umum dan pertemuan warga sipil, dengan menanamkan rasa takut dan kegaduhan di masyarakat."

Serangan bom bunuh diri pada Desember 2007 juga telah menewaskan mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto, di mana latar belakang alasan pembunuhannya tidak pernah sepenuhnya jelas terungkap.

Pada tahun 2008, para pejabat Pakistan mencatat sebanyak 59 serangan bom bunuh diri terjadi di negara itu, dengan jumlah korban jiwa mencapai lebih banyak daripada yang terjadi di Afganistan dan Irak pada tahun yang sama. Bahkan beberapa tahun setelahnya, angka-angka tersebut tetap melaju tinggi.

Tahun-tahun penurunan

Pada tahun 2014, militer Pakistan meluncurkan operasi militer terbesar yang dikenal sebagai "Zarb-e-Azb," yang bertujuan untuk membasmi kelompok TTP dan kelompok-kelompok militan yang terkait dengan Al-Qaeda.

Setelahnya, Pakistan mulai mengalami lebih sedikit aksi serangan bom bunuh diri, di mana jumlahnya menurun satu digit pada pergantian dekade. Para pejabat mencatat hanya ada empat, tiga, dan lima serangan bom bunuh diri yang terjadi pada tahun 2019, 2020, dan 2021, menurut Institut Studi Perdamaian Pakistan.

"Hingga akhir tahun 2020, TTP telah runtuh di bawah operasi Zarb-e-Azb Pakistan yang berkelanjutan, kematian para pemimpinnya secara beruntun oleh serangan pesawat tak berawak AS, dan perpecahan internal yang terus mendorong faksi-faksi organisasi teroris itu untuk pindah ke provinsi-provinsi tetangga di Afghanistan," ungkap jurnalis Kakakhel.

Aktivis Afganistan Memperjuangkan Hak-hak Perempuan

Pengambilalihan Taliban di Afghanistan meningkatkan jumlah militan

Akan tetapi, dengan kebangkitan pemerintah Taliban di Afghanistan pada Agustus 2021 silam, telah memunculkan kelompok TTP kembali sebagai ancaman yang serius.

"Sejak penyatuan kembali dengan beberapa kelompok teror, TTP telah bercita-cita untuk membangun kembali kendali atas wilayah di Pakistan setelah mendapat dukungan dari pengambilalihan Taliban di Afghanistan," demikian menurut Laporan Keamanan PBB pada tanggal 25 Juli lalu.

"Kelompok ini berfokus pada target-target yang bernilai tinggi di daerah perbatasan dan target-target lunak di daerah perkotaan. Kemampuan kelompok TTP ini dinilai tidak sesuai dengan ambisinya, mengingat bahwa mereka tidak menguasai wilayah dan tidak memiliki daya tarik populer di daerah-daerah kesukuan," tulis laporan tersebut.

Para ahli mengatakan bahwa serangan bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini di Bajaur, telah menunjukkan eskalasi substansial yang tidak dapat diragukan lagi, oleh kemampuan kelompok-kelompok militan di Pakistan.

"Ketika konflik meningkat, aksi terorisme bom bunuh diri juga cenderung meningkat, sementara ketika kelompok-kelompok militan menghadapi penindasan melalui operasi-operasi seperti Zarb-e-Azb, insiden-insiden terorisme bunuh diri itu ikut menurun," kata Basit. (kp/hp)