1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia Bersedia Kurangi Senjata Nuklirnya

22 Juni 2009

Rusia menyatakan kesiapannya mengurangi senjata nuklirnya. Namun Rusia mendesak AS untuk juga mempertimbangkan rencana pembangunan sistem penangkal rudalnya di Eropa Timur.

https://p.dw.com/p/IWdb
Presiden Rusia Dmitry MedvedevFoto: picture-alliance/ dpa

Angin segar bagi kesepakatan pelucutan persenjataan strategis Rusia-Amerika Serikat ditiupkan Rusia. Sebelum pertemuannya dengan Presiden AS Barack Obama, awal Juli mendatang, Presiden Rusia Dmitri Medvedev menyatakan bersedia untuk mengurangi secara signifikan jumlah senjata nuklir yang dimilikinya. Pertemuan ini merupakan rangkaian perundingan AS dan Rusia untuk menegosiasikan kelanjutan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis START.

Perundingan tahap ketiga akan berlangsung mulai hari Senin ini (22/06) di Jenewa untuk membahas kesinambungan perjanjian START yang akan habis masa berlakunya Desember mendatang. Selain membahas pengurangan senjata nuklir, juga dibicarakan pengurangan instalasi pengangkut dan peluncurnya. Medvedev mengisyaratkan akan mengurangi jumlah hulu ledak nuklir senjata konvensional masing-masing pihak. Dalam kesepakatan tahun 2002, kedua pihak menyepakati batasan maksimum kepemilikan 17.00 hingga 2200 hulu ledak nuklir.

Usaha untuk menindaklanjuti perjanjian START itu juga merupakan elemen kunci bagi Obama untuk memperbaiki hubungan antara AS dengan Rusia yang sempat tegang belakangan ini.

Sementara itu pemerintah Jerman menyatakan dukungan bagi suksesnya perundingan START, seperti dikatakan Kanselir Jerman, Angela Merkel. „Kami mendukung perundingan pelucutan senjata, terutama dalam kerangka perundingan START, agar dapat mencapai keberhasilan, dan Jerman juga akan membantu sejauh Jerman dapat ikut berkontribusi dalam hal ini.“

Namun sebelum digelarnya pertemuan antara Obama dan Medvedev, masih ada batu sandungan yang mengganjal, yakni rencana AS yang ingin membangun sistem penangkis rudal di Eropa Timur. Medvedev mengungkapkan, Rusia hanya akan mengurangi hulu ledak nuklirnya, apabila AS memberi perhatian atas keberatan Rusia dalam masalah sistem penangkal rudal tersebut.

Sementara Rusia mendesak pengurangan jumlah hulu ledak nuklir dan instalasi pendukungnya, pihak AS hanya memfokuskan diri pada penempatan operasional hulu ledak nuklir yang siap untuk diluncurkan. Pemerintahan di Washington tidak bersedia memperluas agenda START. AS juga berkeras bahwa sistem penangkal rudal yang akan dibangun di Eropa Timur tak akan menjadi ancaman bagi Rusia, melainkan antisipasi serangan negara-negara yang dianggap ‚jahat” seperti Iran, misalnya.

AP/afp/rtr