1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJepang

Pertama Kali, Perempuan Ikut 'Festival Telanjang' di Jepang

23 Februari 2024

Untuk pertama kalinya, perempuan dilibatkan dalam 'festival telanjang' di Jepang. Hal ini menjadi upaya pelibatan partisipasi perempuan di masyarakat.

https://p.dw.com/p/4cmTd
Perempuan berpartisipasi dalam Festival Telanjang
Tujuh kelompok perempuan mengambil bagian dalam ritual yang dikatakan dapat mengusir roh jahat dan para peserta berdoa untuk kebahagiaan dalam Festival TelanjangFoto: Chris Gallagher/REUTERS

Perempuan secara resmi dapat mengikuti "festival telanjang" di sebuah kuil di Jepang tengah pada Kamis (23/02) untuk pertama kalinya dalam 1.250 tahun sejarah acara tersebut. Mereka mengenakan jubah ungu dan bernyanyi dengan penuh semangat sambil membawa batang bambu besar sebagai persembahan.

Tujuh kelompok perempuan mengambil bagian dalam ritual yang dikatakan dapat mengusir roh jahat dan para peserta berdoa untuk kebahagiaan. Terlepas dari namanya, mereka yang berpartisipasi tidak telanjang.

Banyak perempuan mengenakan "Happi Coats" (jubah yang mencapai pinggul) dan celana pendek yang biasanya dikenakan di festival Jepang, meskipun pria hanya mengenakan cawat yang mirip dengan yang dikenakan pegulat sumo.

"Saya mendengar bahwa perempuan dapat berpartisipasi, jadi saya benar-benar ingin mengambil bagian untuk membantu menghadirkan kegembiraan di kota dan festival ini,” kata Emi Tachibana, seorang pegawai negeri sipil berusia 59 tahun, salah satu peserta.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Naruhito Tsunoda, seorang pendeta di kuil tersebut, mengatakan bahwa tidak pernah ada larangan bagi perempuan untuk berpartisipasi dan beberapa bahkan pernah memberikan persembahan kecil secara individu sebelumnya.

Namun, ketika sebuah kelompok perempuan bertanya pada tahun lalu apakah mereka bisa bergabung, menjawab 'ya' adalah hal yang mudah.

"Saya percaya hal yang paling penting adalah adanya festival yang menyenangkan bagi semua orang. Saya pikir Tuhan juga akan sangat senang dengan hal itu,” katanya.

Para perempuan tidak mengikuti acara utama festival di mana sekelompok besar laki-laki saling bentrok untuk mengusir roh jahat. Tsunoda mengatakan akan sulit untuk membuka bagian festival tersebut bagi perempuan karena aspek fisik.

Pemerintah Jepang tahun lalu mengatakan akan mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam masyarakat, setelah laporan tahunan menunjukkan negara tersebut berjuang untuk mempersempit kesenjangan gender.

rs/ha (Reuters)