1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Penegakan HukumSelandia Baru

Penyelidikan Serangan Masjid di Christchurch Dimulai

24 Oktober 2023

Penyelidikan ini akan menyelidiki peristiwa 15 Maret 2019 ketika 51 Muslim terbunuh dalam serangan di dua masjid. Serta menyarankan langkah-langkah pencegahan untuk masa yang akan datang.

https://p.dw.com/p/4XwAK
Kasus penembakan di Christchurch
Brenton Tarrant menyiarkan langsung serangan terhadap masjid Al Noor dan Linwood Islamic Center di media sosial pada 15 Maret 2019Foto: Guo Lei/XinHua/dpa/picture alliance

Penyelidikan koroner atas serangan teror tahun 2019 yang menewaskan 51 orang di kota Christchurch, Selandia Baru, dimulai pada Selasa (24/10), diawali dengan pemutaran sebuah video penghormatan bagi mereka yang kehilangan nyawa.

Penyelidikan selama enam minggu, diawasi oleh Wakil Kepala Koroner Brigitte Windley, akan menyelidiki peristiwa hari itu, termasuk tanggapan darurat, dan masalah-masalah seperti tidak berfungsinya pintu darurat di sebuah masjid.

Menurut Radio New Zealand, Windley mengatakan bahwa penyelidikan ini berusaha untuk menjelaskan "penyebab dan keadaan kematian," dan "untuk melihat ke masa depan, apakah ada komentar atau rekomendasi yang dapat dibuat, untuk mengurangi kemungkinan kematian lebih lanjut dalam situasi yang sama."

Apa yang ingin dicapai oleh penyelidikan atas serangan teror Christchurch

Windley menekankan fokusnya bukan pada penetapan tanggung jawab atau kelalaian, melainkan pada meminta pertanggungjawaban individu.

Hampir 5.000 gambar, 3.000 file audio, dan 80 jam bukti video akan diperiksa dalam penyelidikan ini. Lebih dari 600 orang dijadwalkan untuk menghadiri sidang secara langsung selama enam minggu.

Brenton Tarrant, warga negara Australia, yang dipersenjatai dengan senjata semi otomatis berkapasitas tinggi, menyiarkan secara langsung serangan terhadap masjid Al Noor dan Pusat Islam Linwood di media sosial pada 15 Maret 2019. Dia juga menerbitkan sebuah manifesto secara online sebelum melakukan serangan tersebut.

Tarrant dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat pada bulan Agustus 2020 setelah mengakui 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan pembunuhan, dan satu dakwaan terorisme.

Penyelidikan juga akan menyelidiki kemungkinan apakah Tarrant menerima bantuan dari pihak luar untuk mendalangi penembakan mematikan tersebut.

Hari berkabung di Selandia Baru pasca penembakan (29 Maret 2019)
Pasca-penembakan, warga Selandia Baru berkumpul di North Hagley Park untuk berkabung atas korban tewas dalam penembakan di masjid di Christchurch pada 29 Maret 2019Foto: Getty Images/AFP/STR

Apa yang dikatakan oleh keluarga korban Christchurch

Maha Galal, juru bicara "15 March Whanau Trust" yang mewakili keluarga korban, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "perhatian utama kami adalah memahami kebenaran."

Keluarga korban "bersatu sebagai upaya mereka untuk memahami, mencari kejelasan apakah orang yang mereka cintai bisa selamat," katanya.

Meskipun penyelidikan ini bertujuan untuk memahami insiden tersebut dan menyarankan langkah-langkah pencegahan untuk masa depan, penyelidikan ini tidak dapat menjatuhkan hukuman atau menawarkan kompensasi.

Setelah serangan tersebut, Selandia Baru memulai reformasi senjata api besar-besaran dan membentuk Christchurch Call, sebuah inisiatif untuk menangani konten teroris dan ekstremis secara online.

bh/rs  (dpa, AFP, Reuters)