1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Mimpi Terbang dengan Pesawat Bertenaga Listrik Ramah Emisi

Dan Hirschfeld | Andreas Spaeth
26 Juli 2024

Pakar dirgantara menilai, terbang dengan pesawat murni tenaga listrik itu "seksi". Sudahkah kita siap untuk dibawa terbang tinggi olehnya?

https://p.dw.com/p/4ikWl
Pesawat bertenaga listrik Alice, bisa mengangkut 9 penumpang
Pesawat bertenaga listrik Alice, bisa mengangkut 9 penumpangFoto: Ellen M. Banner/AP Photo/picture alliance

Naik pesawat jet pribadi mungkin jadi mimpi sebagian orang. Bagaimana tidak, kita tidak perlu repot-repot antre berdesakan dengan khalayak umum untuk bisa sampai tujuan dengan cepat.

Pelayanan yang serba VIP sudah terbayang. Selain itu, di dalam pesawat pun kita bisa selfie untuk diposting di media sosial. Tambah naik deh gengsi kita.

Tapi, tidak semua orang lantas menganggap kita auto-keren. Sebagian malah melihat pemakai jet pribadi sebagai orang dengan dengan 'dosa lingkungan' yang besar. Mungkin tidak ya, image keren naik jet pribadi juga berbanding lurus dengan keren karena sadar lingkungan?

‘Dosa' penerbangan jarak pendek

Penerbangan jarak pendek, seperti yang ditempuh oleh pesawat jet pribadi adalah bentuk perjalanan yang paling menghasilkan polusi di dunia ini. Dengan kata lain, karbon monoksida yang dihasilkan penerbangan jarak pendek ini tinggi sekali.

Kebayang dong, bagaimana kotornya udara kalau setiap orang mau bisa terbang dengan jet pribadi?

Ini nih yang lagi diusahakan oleh sebagian orang di dunia aviasi. Kalau di darat sudah banyak seliweran mobil Listrik yang relatif minim polusi, kenapa tidak buat pesawat listrik? Salah satunya yakni Alice.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru! 

Pesawat dua mesin yang mampu terbang sejauh 600 kilometer ini bukanlah pesawat biasa. Alice punya dua mesin listrik, yang artinya pesawat ini tidak menghasilkan emisi, dan tidak berisik.

Bagaimana daya angkutnya? Pesawat Alice ini bisa membawa sembilan penumpang dan bagasi mereka, atau lebih dari satu ton kargo. Jangkauan pesawat ini pun mencapai 400 kilometer.

Eviation, perusahaan yang membuat Alice, mengatakan bahwa peluang pesawat ini di pasaran sangat besar. Karena setengah dari lalu lintas udara dunia itu sebenarnya adalah penerbangan dengan jarak kurang dari 900 kilometer, dan 20-30 persennya adalah sekitar 500 kilometer. 

Pesawat kargo DHL buatan Eviation
DHL adalah salah satu perusahaan yang tertarik dengan konsep penerbangan listrik ramah lingkungan yang ditawarkan EviationFoto: DHL

"Karbon monoksida dari penerbangan jarak pendek sangat tinggi. Dengan Alice, kami mengatasi hal tersebut dan mengubah kondisi itu. Karena dengan Alice tidak ada emisi spesifik. Tidak ada yang keluar dari pesawat, tidak ada karbon, tidak ada gas buang, dan kebisingan sangat rendah," kata Gregory Davis, CEO Aviation, di Washington, Amerika Serikat.

Apa masyarakat siap naik pesawat listrik?

Penerbangan perdana Alice pada 2022 dianggap sebagai langkah besar bagi perusahaan. Bagaimana tidak, klien mereka makin banyak, investor juga makin tertarik dengan teknologi pesawat ini. Salah satu pelanggan yang tertarik yakni DHL.

Apa masyarakat sudah siap naik pesawat listrik? Steve Crane yang punya pengalaman lama dalam menguji pesawat baru untuk Boeing menilai masyarakat siap. 

Pesawat listrik Alice buatan Eviation
Pihak Eviation mengaku para calon pelanggan dan investor sangat berminat dengan pesawat Alice buatan mereka.Foto: Ellen M. Banner/AP Photo/picture alliance

"Saya pikir ini akan lebih mudah diterima. Mulai dari kendaraan di darat, mobil, hingga pesawat terbang. Begitu orang sadar akan hal ini, rasanya kenyamanan akan meningkat," kata Steve Crane kepada DW.

Terbang pakai tenaga listrik itu "seksi"

Alice punya sembilan kursi. Ini adalah satu-satunya pesawat yang dirancang sejak awal untuk terbang hanya dengan tenaga baterai. Pesawat ini dibangun oleh perusahaan Eviation, yang didirikan di Israel dan sekarang berbasis di Pacific Northwest Amerika Serikat.

Sebagai pesawat, body Alice terlihat sangat menarik. Namun estetika desain ini juga berfungsi mengoptimalkan karakteristik penerbangannya.

Pastinya, faktor penting dari pesawat macam ini adalah baterainya. Jika dikembangkan lebih lanjut, pesawat ini akan punya jangkauan lebih luas, buatan lebih banyak dan penggunaan yang lebih luas lagi.

"Penerbangan listrik murni sangat seksi karena memiliki efisiensi listrik yang sangat tinggi yaitu 90 persen jika Anda mengisi baterainya dengan listrik dari energi angin," begitu kata Björn Nagel, Kepala Institut Arsitektur Sistem di German Aerospace Center (DLR) di Hamburg. 

Pesawat listrik memang pada awalnya hanya digunakan di pasar yang sangat terbatas, tapi pesawat jenis ini tetap diminati. Dan untuk saat ini, Alice hanya perlu di-charge selama 30 menit dan itu cukup untuk satu kali penerbangan.

Yang pesimistis masih banyak

Seperti banyak hal lain di dunia yang fana ini, tidak semua orang punya pandangan positif atas satu hal. Yang pesimistis dengan penerbangan murni bertenaga baterai juga banyak.

Apa iya semua ini bisa membantu Uni Eropa mencapai tujuan industri yang ambisius supaya bisa membangun penerbangan ramah iklim dan berkelanjutan pada tahun 2035?

"Saya skeptis terhadap apa pun yang dapat terbang dengan baterai elektrik karena masalah jangkauan," kata Lars Enghardt, Kepala Institut DLR untuk mesin Penerbangan Kendaraan Listrik di Cottbus.

"Baterai tersebut sebenarnya hanya dapat melayani segmen tertentu," kata dia. Lagi pula, dia yakin kalau dalam waktu dekat, kita belum akan mengalami, atau melihat adanya baterai dengan peningkatan kepadatan energi yang signifikan.

Sepertinya, memang baru akan ada sedikit sekali penerapan pesawat komersial yang murni digerakkan dengan tenaga listrik. Untuk sementara, konsep hibrida-listrik sementara ini yang akan berlaku untuk rute yang lebih panjang dan pesawat yang lebih besar. (ae/rs)