1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

060808 Hiroshima Atombombe Gedenken

6 Agustus 2008

Upacara peringatan bom atom Hiroshima hampir menjadi seperti rutinitas sedih. Acara peringatan bagi korban tewas dalam ledakan bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat itu berlangsung selama 45 menit.

https://p.dw.com/p/EreF
Suasana peringatan 63 tahun jatuhnya bom atom di HiroshimaFoto: AP

Tepat pukul 8.15 waktu setempat 63 tahun lalu, awak pesawat Amerika Serikat pembawa bom maut itu, Enola Gay, menjatuhkan bom atom berjuluk “Little Boy“ ke kota Hiroshima. Hari Rabu (06/08), lonceng perdamaian Hiroshima dibunyikan selama satu menit untuk menghormati para korban tewas, sebagai penyerta upacara mengheningkan cipta.

Seperti biasanya dalam upacara itu hadir prdana mnteri Jepang dan sejumlah pejabat tinggi negara. Mereka kemudian memberikan pidato dan mengimbau agar kejadian serupa tidak lagi terulang. Namun kesadaran dan kenangan mengenai bom atom itu perlahan menghilang. Setiap tahunnya, korban yang selamat dalam peristiwa itu meninggal akibat dampak radioaktif bom tersebut. Nama-nama mereka diabadikan dalam daftar korban tewas Hiroshima yang sudah panjang berderet.

"Waktu itu yang terlihat adalah seperti sebuah kilat berwarna biru putih. Kilat itu menerangi seluruh ruangan kuil tempat saya tinggal. Tidak ada suara ledakan yang menyertainya. Saya sempat bertanya-tanya, jika di suatu tempat terdengar ledakan. Namun beberapa detik setelahnya saya mendengar ledakan keras. Lalu saya melihat kepulan asap besar seperti awan di langit, berwarna-warni, putih, hitam, merah muda. Asap itu terus membesar dan kemudian dinamakan awan jamur atom,“ ujar salah seorang korban yang selamat dalam peristiwa bom atom Hiroshima dalam sebuah rekaman kesaksian.

Pria yang waktu itu berusia 43 tahun selamat tanpa luka-luka yang berarti. Namun akibat radiasi radioaktif 40 tahun kemudian, dia meninggal karena kanker. Para korban selamat peristiwa bom atom Hiroshima, kemudian dinamakan Hibakusha dan dalam waktu cukup lama dikucilkan dari masyarakat. Dikhawatirkan mereka menularkan penyakit dan terutama tidak mau diingatkan mengenai peristiwa menyedihkan tersebut. Sengketa mengenai biaya ganti rugi dan siapa yang diakui sebagai korban, harus melewati proses pengadilan.

Baru-baru ini saja, pemerintah Jepang mengubah kebijakan dan memberikan pelayanan medis gratis bagi banyak korban bom Hiroshima dan Nagasaki. Tapi, penderitaan psikologis para korban selamat tidak dapat diringankan. Banyak yang mengeluhkan mengapa dirinya harus selamat, sementara keluarga dan kerabatnya tewas.

Sejak tahun 1999, Tadatoshi Akiba dilantik sebagai walikota Hiroshima. Dalam pidatonya, Akiba selalu menyerukan penghentian penggunaan senjata atom dan mengritik pemerintah Jepang yang terlambat dalam memberikan kompensasi bagi Hibakusha, para korban yang selamat. Pada upacara peringatan tahun ini, Walikota Tadatoshi Akiba menegaskan kembali mengenai penderitaan para korban selamat, serta mengumumkan hasil studi mengenai dampak psikologis jangka panjang peristiwa dijatuhkannya bom atom di Hiroshima.(ls)